BERITA
26 Jan 2026, 09:35 AM
Admin Web UMLA
Admin Web
Menjadi dosen bukanlah sekadar menjalani profesi akademik. Ia adalah pilihan jalan hidup. Di dalamnya ada komitmen keilmuan, tanggung jawab moral, dan panggilan pengabdian yang panjang. Karena itu, berbicara tentang dosen sejatinya adalah berbicara tentang masa depan sebuah perguruan tinggi—bahkan masa depan masyarakat yang dilayaninya.
Di Universitas Muhammadiyah Lamongan, peran dosen memiliki makna yang lebih dalam. Dosen tidak hanya dihadapkan pada tuntutan profesionalisme akademik, tetapi juga amanah nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Di titik inilah pembekalan dosen tidak cukup dimaknai sebagai penguatan teknis, melainkan sebagai proses penyadaran dan pencerahan.
Tulisan ini mengajak para dosen—dan siapa pun yang bergelut di dunia akademik—untuk merenungkan kembali lima hal mendasar tentang makna menjadi dosen: niat, cara mengajar, tanggung jawab keilmuan, pengabdian sosial, dan kerja kolektif membangun institusi.
Meluruskan Niat: Dari Profesi Menuju Pengabdian Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari niat. Dalam dunia akademik, niat kerap tersamarkan oleh rutinitas administratif, target kinerja, dan tuntutan karier. Padahal, kualitas pengabdian seorang dosen sangat ditentukan oleh niat awalnya. Meluruskan niat berarti menempatkan ilmu sebagai amanah, bukan komoditas. Mengajar bukan sekadar memenuhi beban SKS; meneliti bukan semata mengejar angka kredit; menulis bukan hanya kewajiban laporan kinerja. Semuanya adalah ibadah intelektual yang menuntut kejujuran ilmiah, kesungguhan, dan kesediaan untuk terus belajar. Dari niat yang lurus inilah lahir integritas—sesuatu yang tak bisa digantikan oleh sistem apa pun.
Mengajar dengan Makna: Kelas sebagai Ruang Pencerahan Mengajar adalah inti profesi dosen. Namun, tidak semua pengajaran melahirkan pembelajaran. Banyak kelas berjalan, tetapi sedikit yang benar-benar menghidupkan kesadaran mahasiswa. Mengajar dengan makna berarti menjadikan kelas sebagai ruang pencerahan. Dosen bukan sekadar penyampai materi, melainkan penuntun intelektual. RPS seharusnya menjadi alat bantu pedagogis yang hidup—memberi arah, sekaligus membuka ruang dialog, improvisasi, dan kedalaman. Mahasiswa mungkin lupa sebagian materi, tetapi akan selalu mengingat cara dosennya berpikir, bersikap, dan memperlakukan ilmu.
Meneliti dan Menulis: Nafas Panjang Seorang Akademisi Dosen yang berhenti meneliti sejatinya sedang berhenti bertumbuh. Penelitian adalah cara menjaga napas keilmuan—memperbarui perspektif, menguji gagasan, dan menjaga relevansi ilmu dengan realitas yang terus berubah. Menulis memperpanjang usia gagasan. Ia menjadi jejak intelektual yang melampaui ruang kelas. Bagi dosen UMLA, isu-isu lokal—pendidikan, sosial-keagamaan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat—adalah ladang riset yang kaya dan bermakna. Publikasi bukan tujuan akhir, melainkan jembatan kontribusi.
Pengabdian Masyarakat: Ilmu yang Turun ke Bumi Ilmu yang tak menyentuh kehidupan sosial berisiko menjadi menara gading. Karena itu, pengabdian kepada masyarakat bukan pelengkap tridarma, melainkan manifestasi paling nyata dari kebermanfaatan ilmu. Pengabdian yang bermakna lahir dari pemahaman jujur atas kebutuhan masyarakat dan kesediaan dosen untuk hadir secara nyata. Ketika riset, pengajaran, dan pengabdian saling terhubung, kampus berubah menjadi pusat pencerahan—bukan sekadar institusi formal.
Bergerak Bersama: UMLA sebagai Rumah Kolektif Perguruan tinggi dibangun oleh kerja kolektif yang berkelanjutan. UMLA adalah rumah bersama; dosen adalah pilar utamanya. Bergerak bersama menuntut kedewasaan akademik, keterbukaan pada kritik, dan kesediaan berkolaborasi. Integritas dan etika akademik bukan sekadar urusan personal, tetapi fondasi institusional. Ketika dosen-dosennya bertumbuh, institusi akan ikut bertumbuh. Penutup Wajah UMLA di masa depan sangat ditentukan oleh dosen-dosennya hari ini. Gedung dan sistem hanyalah alat; ruh universitas ada pada manusia yang menghidupinya. Menjadi dosen UMLA berarti memilih jalan pengabdian yang sunyi tetapi bermakna—jalan yang menuntut keilmuan, keteladanan, dan kesediaan untuk terus bertumbuh. Semoga refleksi ini menjadi cermin bersama: bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan, tetapi siapa yang kita bentuk, dan jejak apa yang kita tinggalkan.
Penulis: Mufti Labib Anggota BPH Universitas Muhammadiyah Lamongan